TSWpGUA9Tfd6GUO7GprpGSM7Td==

Tambang Kapur Kalsium Karbonat 99 Persen Up, Gus Lilur Sebut Indonesia Berpeluang Kuasai Pasar Dunia

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau akrab disapa Gus Lilur, Owner Raja Kapur Indonesia. (Ilustrasi: Kutipantau.com)
BISNIS, KUTIPANTAU.COM - Potensi tambang Kapur Kalsium Karbonat dengan spesifikasi kemurnian 99 persen up dinilai memiliki nilai strategis tinggi dan peluang besar untuk menguasai pasar global. Komoditas ini dibutuhkan oleh berbagai sektor industri, mulai dari kertas, farmasi, makanan, hingga teknologi material presisi tinggi.

Hal tersebut disampaikan oleh HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, pengusaha nasional yang akrab disapa Gus Lilur, saat memaparkan kajian potensi tambang Kapur Kalsium Karbonat berkualitas tinggi di Indonesia. Menurutnya, kelangkaan material dengan spesifikasi 99 persen up menjadi peluang emas yang belum banyak disadari.

“Berdasarkan informasi dari Omya Indonesia, anak usaha Omya International Swiss, selama lebih dari 10 tahun mereka belum pernah mendapatkan suplai Kapur Kalsium Karbonat spek 99 persen up,” ujar Gus Lilur.

Ia menjelaskan, Omya Indonesia saat ini mengoperasikan dua pabrik di Paciran, Kabupaten Lamongan, serta satu pabrik di Kabupaten Rembang. Namun hingga kini, kebutuhan Kapur Kalsium Karbonat dengan kemurnian tinggi tersebut belum dapat dipenuhi dari wilayah sekitar.

“Di Gresik, Lamongan, Tuban sampai Rembang, faktanya tidak ada Kapur Kalsium Karbonat dengan spek 99 persen up. Ini bukan asumsi, tapi kebutuhan industri yang belum terjawab,” tegasnya.

Berangkat dari kondisi itu, Gus Lilur kemudian menjajaki pasar China, yang dikenal sebagai eksportir Kapur Kalsium Karbonat terbesar di dunia. Namun hasil penelusurannya justru menunjukkan fakta menarik bahwa China masih mengimpor Kapur Kalsium Karbonat spek 99 persen up dari Amerika Serikat.

“Para ahli di China menyebutkan, Kapur Kalsium Karbonat spek 99 persen up ini hanya sekitar 10 persen yang ada di dunia. Bahkan China, dengan SDA melimpah, tetap impor,” ungkapnya.

Gus Lilur mencontohkan, China juga masih mengimpor batubara dari Indonesia meskipun cadangan batubara mereka lebih besar. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa kualitas dan spesifikasi tetap menjadi faktor utama dalam perdagangan global.

Dari hasil komunikasi dengan pelaku industri di China, diperoleh informasi bahwa harga Kapur Kalsium Karbonat spek 99 persen up Mess 100 mencapai 150 dolar Amerika Serikat per ton. Angka ini jauh melampaui harga batubara dengan kalori tertinggi di Indonesia yang berada di kisaran 104 dolar AS per ton.

Lebih lanjut, Gus Lilur menyebut Kapur Kalsium Karbonat dengan spesifikasi nano partikel memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi, yakni antara 1.000 hingga 1.500 dolar AS per ton. “Untuk masuk ke nano partikel, investasinya sekitar Rp250 miliar, tapi nilai tambangnya bisa lebih dari Rp5.000 triliun,” katanya.

Untuk tahap awal, Gus Lilur menargetkan produksi Kapur Kalsium Karbonat Mess 100 dengan biaya produksi sekitar 50 dolar AS per ton. Dengan harga jual 150 dolar AS per ton, margin yang diperoleh mencapai 100 dolar AS per ton.

“Kalau produksinya 50 ribu ton per minggu atau satu kapal per minggu, margin per minggu bisa Rp82,5 miliar. Dalam sebulan bisa tembus Rp330 miliar,” paparnya.

Ia juga menegaskan memiliki konsesi tambang Kapur yang tersebar di delapan kabupaten, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Gresik, Lamongan, Tuban, dan Rembang, dengan total sekitar 275 lokasi tambang.

“Dengan konsesi itu, saya merangkai visi menjadi Raja Kapur Indonesia. Ini bukan mimpi, tapi kalkulasi,” ujar Gus Lilur. Ia menutup dengan menegaskan bahwa seluruh pengembangan usaha tersebut diorientasikan pada kemandirian industri nasional dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

0Komentar